Kamis, 07 November 2019

Mawar

Bukankah mawar tak perlu berkoar bahwa dirinya mawar?
Sebab duri adalah bukti
Sebab lembaran petal cukup jadi penanda faktual

Seperti halnya kesturi
Ia tak pernah repot berpidato ke sana ke mari
Sebab insan-insan yang mengerti paham benar dengan semerbak wangi surgawi

Lembang, 06 November 2019
Sungguh pencitraan itu membuat jengah

Senin, 04 November 2019

Mencari Jawaban

Pada deretan huruf dalam tumpukan kertas yang kupegang
Pada barisan kata yang berjajar di layar yang menyala
Pada dedaunan yang meliuk-liuk menari
Pada angin yang lembut berbisik
Kutanya gerangan apa jawabnya

(Mengungkap misteri kalimatmu, "This is a gap in your ...". Gustiiiii, kedah kumaha Abdi?)

Minggu, 13 Oktober 2019

Pelembap Alami untuk Kulit Berminyak

Huhu... Punya kulit sensitif sekaligus juga berminyak itu lumayan tricky. Nyoba pakai pelembap yang ada di pasaran malah bikin beruntusan belum lagi repot harus ngecek ingredients. Hampir putus asa mau menyerahkan urusan kulit ke klinik tapi bingung nyari klinik yang pas di hati. Apa sebab? Urusan kulit itu adalah urusan yang holistik. Bukan sekedar kulit terlihat baik tapi komposisinya haruslah aman buat tubuh secara keseluruhan juga aman buat lingkungan. Singkat cerita, hari ini saya nyoba bikin pelembap sendiri dengan mencampurkan bahan-bahan berikut:
- 10 mL aloe vera gel (kali ini pake yang komersil dari the saem)
- 1 mL argan oil
- 2 tetes air mawar
- 2 tetes tea tree essential oil
Masing-masing bahan warnanya bening, nah pas dicampur jadi putih gitu. Pelembap ini dipakai setelah cuci muka. Untuk pelindung dari matahari saya pake bb cream secret garden dari Green Momy. Sementara gitu aja. Hasilnya? Kita lihat beberapa hari ke depan lah ya. Bismillah...semoga cocok.

Sabtu, 12 Oktober 2019

Menuju Medan Laga

Upayaku begitu sahaja
Bukan tiada tekad membaja
Semata karena keterbatasan tenaga
Namun bukankah Engkau Maha Segala
Engkau Maha Kuasa gerakkan semesta
Sungguh hanya pada-Mu aku meminta
Beri aku kekuatan tuk meraih cita
Pada-Mu saja ku mengemis cinta
Kuharap kasih-Mu membelai sukma

Lembang, 13 Oktober 2019
Detik-detik menuju medan laga
Sedang aku tiada daya

Senin, 01 Juli 2019

Memilih Tempat Senam

Moms, apa Moms pecinta senam? Faktor apa saja sih yang jadi pertimbangan dalam memilih tempat senam? Kalau saya sih setidaknya ada dua hal yang jadi pertimbangan yaitu jenis senam dan tempat.
Terkait jenis senam, sebab usia saya sudah bukan tujuh belas lagi, saya memilih senam yang low impact. Kenapa demikian? Menurut beberapa sumber, menginjak usia di atas 30 tahun produksi enzim SOD (super oksida dismutase) berkurang. Enzim tersebut bertanggung jawab dalam mengubah radikal bebas yang dihasilkan saat berolahraga menjadi zat yang aman bagi tubuh. Oleh sebab itu usia di atas 30 sebaiknya memilih olah raga yang tidak terlalu berat dan juga menyenangkan.
Faktor yang tak kalah pentingnya adalah tempat. Tempat yang digunakan untuk senam indoor diupayakan benar-benar tertutup. Apa sebab? Biasanya baju yang dikenakan body fit agar kita bebas melakukan gerak dan presisi gerakan bisa terevaluasi. Selain itu, di tempat tersebut diupayakan tidak ada yang selfie atau rekam video apalagi sampai diupload, haduh. Dalam keseharian berfoto ria sih oke, tapi kalau lagi senam indoor? BIG NO deh. Moms, bagaimana dengan olahragamu?

Sabtu, 24 November 2018

Lelaki Kecilku Galau

Kuusap punggung lelaki kecilku. Raut wajahnya tak biasa. Mendung masih menggantung pada muka lelaki sepuluh tahun itu. “Ayo tidur Nak, supaya bisa bangun shubuh” ucapku. “Gak bisa tidur Bun" katanya sambil membalikkan badan. Biasanya baca sebentar, tak lama kemudian ia akan tertidur pulas.
Ada yang berbeda di malam itu. Sejenak pandangannya tertuju pada piala O2SN tahun kemarin. “Duh, renang" bisiknya lirih. “Kamu masih gak ikhlas melepas lomba renang?” tanyaku. “Bukan begitu Bun” jawabnya pendek. “Tadi Bu Guru WA Bunda, katanya kamu pilih gak ikut lomba renang” hati-hati kulontarkan kalimat itu. Kegalauan sempat hinggap juga di hatiku siang tadi sebenarnya. Bu guru mengabarkan bahwa lomba siswa berprestasi jadwalnya berbarengan dengan O2SN renang. Sebenarnya hatiku lebih galau lagi menyaksikan lelaki kesayangan kehilangan senyumnya. Ibu mana yang tega melihat buah hatinya berduka.


Aku sebenarnya tak pernah memaksa anakku untuk ikut berlomba, namun kepercayaan sekolah telah diamanatkan pada lelaki yang terlahir dari rahimku itu. Sayangnya dua amanat dalam satu waktu tak mungkin dilaksanakan bersamaan. Mungkin ini momen yang tepat bagi anakku untuk memilih. “Iya, aku bilang pilih ikut lomba berprestasi. Sebenarnya aku lebih suka lomba renang” kata-kata mengalir dari mulut mungilnya. Binar di matanya masih saja bersembunyi entah di mana. “Tapi aku kasihan sama Bu Guru, udah ngajarin aku buat ikut siswa berprestasi,” sambungnya. “Kamu harus ridho dengan pilihanmu. Kalau hatimu belum lega, Bunda bisa bilang Bu Guru kalau kamu berubah pikiran” jelasku. “Jangan Bun!” pintanya. “Kalau gitu ikhlaskan, Bunda tahu kamu sudah berlatih renang tiap pekan, dan sekarang kamu korbankan untuk lomba yang lain yang mungkin jarang sekali kesempatannya. Semoga pengorbanan kamu berbuah keberkahan. Kalau kamu senang lomba renang, insya Allah nanti Bunda carikan, bahkan kalau lombanya di luar kota insya Allah bunda antar" hiburku. Akhirnya si anak semata wayang tertidur lelap.
Kuusap punggung lelaki kecilku. Raut wajahnya tak biasa. Mendung masih menggantung pada muka lelaki sepuluh tahun itu. “Ayo tidur Nak, supaya bisa bangun shubuh” ucapku. “Gak bisa tidur Bun" katanya sambil membalikkan badan. Biasanya baca sebentar, tak lama kemudian ia akan tertidur pulas.
Ada yang berbeda di malam itu. Sejenak pandangannya tertuju pada piala O2SN tahun kemarin. “Duh, renang" bisiknya lirih. “Kamu masih gak ikhlas melepas lomba renang?” tanyaku. “Bukan begitu Bun” jawabnya pendek. “Tadi Bu Guru WA Bunda, katanya kamu pilih gak ikut lomba renang” hati-hati kulontarkan kalimat itu. Kegalauan sempat hinggap juga di hatiku siang tadi sebenarnya. Bu guru mengabarkan bahwa lomba siswa berprestasi jadwalnya berbarengan dengan O2SN renang. Sebenarnya hatiku lebih galau lagi menyaksikan lelaki kesayangan kehilangan senyumnya. Ibu mana yang tega melihat buah hatinya berduka.

Aku sebenarnya tak pernah memaksa anakku untuk ikut berlomba, namun kepercayaan sekolah telah diamanatkan pada lelaki yang terlahir dari rahimku itu. Sayangnya dua amanat dalam satu waktu tak mungkin dilaksanakan bersamaan. Mungkin ini momen yang tepat bagi anakku untuk memilih. “Iya, aku bilang pilih ikut lomba berprestasi. Sebenarnya aku lebih suka lomba renang” kata-kata mengalir dari mulut mungilnya. Binar di matanya masih saja bersembunyi entah di mana. “Tapi aku kasihan sama Bu Guru, udah ngajarin aku buat ikut siswa berprestasi,” sambungnya. “Kamu harus ridho dengan pilihanmu. Kalau hatimu belum lega, Bunda bisa bilang Bu Guru kalau kamu berubah pikiran” jelasku. “Jangan Bun!” pintanya. “Kalau gitu ikhlaskan, Bunda tahu kamu sudah berlatih renang tiap pekan, dan sekarang kamu korbankan untuk lomba yang lain yang mungkin jarang sekali kesempatannya. Semoga pengorbanan kamu berbuah keberkahan. Kalau kamu senang lomba renang, insya Allah nanti Bunda carikan, bahkan kalau lombanya di luar kota insya Allah bunda antar" hiburku. Akhirnya si anak semata wayang tertidur lelap.

Minggu, 06 Mei 2018

Bukan Tersesat

Minggu 06 Mei 2018 adalah hari terakhir kami berasyik masyuk dengan Mekah Almukaromah karena besok dini hari harus sudah bersiap-siap check out. Ada rasa berat di hati laksana berpisah dengan kekasih. Saat sarapan pagi terlintas dalam pikiran ingin lebih mengeksplor lagi Masjid Al Haram. Semoga saja Allah takdirkan kembali suatu saat.

Meski berangkat bersama dengan suami, karena tempat sholat kami terpisah kami bersepakat untuk menjadikan ATM Rajhi Bank di depan pintu exit 1 sebagai meeting point. Usai dzuhur di lantai 4 aku sedikit berjalan mencari spot untuk memotret kertas bertuliskan beberapa kalimat untuk oleh-oleh. Sayangnya pencahayaan kurang pas,  sehingga aku urung memotret, maka kuputuskan untuk segera turun menuju tempat janjian. Eskalator tempat tadi naik tidak kutemukan. Sudahlah yang penting turun saja, nanti juga kalau sudah di luar gampang.

Saat keluar,  suasana terlihat asing, wajah melayu tak kutemui. Kuikuti langkah orang-orang di sekitar seperti daun yang jatuh di aliran sungai. Aku baru tersadar bahwa aku telah jauh dari meeting point saat di hadapanku terlihat sebuah bukit gersang dengan beberapa buah bangunan. Kubuka pesan WA, "Bun, di mana?". "Entah dimana, tapi tunggu saja!" sebuah jawaban absurd bukan? Aku bukan tersesat, aku hanya butuh waktu lebih mencari jalan pulang.
Sambil memotret beberapa spot menarik, kuputuskan mencari askar. Tak terpikir sedikit pun untuk membuka Google Map. Hahaha...memangnya bisa ya pakai Google Map di sini?

Tiba di Gate Al Arqam dua orang Askar berseragam ala tentara dan dua orang bersorban ala pangeran Arab tengah berjaga. Kuhampiri salah satunya,  "Assalamu'alaikum...I think I'm getting lost". Sang Askar mengangkat bahu dan tangan sembari memiringkan kepala."How do I get to eighty eight Gate?" tanyaku penuh harap. "Eighty eight?" tanyanya. Aku mengangguk, mataku berbinar berharap sang askar menunjukkan jalan. Akan tetapi bukannya arah yang ia tunjukkan, malah smart phone miliknya yang ia tunjuk dengan jarinya. Duh, apa maksudnya? Kucoba terka makna isyarat telunjuknya. Kubuka hand phone, kutuliskan angka 88 dan kutunjukkan padanya. Ia manggut-manggut, lalu menunjukkan arah dengan lengan kanannya.

Kulangkahkan kaki sesuai Arah yang ditunjukkan askar. Setelah melewati tempat funeral praying dari kejauhan kulihat depot air dekat pintu keluar satu, jalan yang belakangan ini kulalui menuju ataupun meninggalkan masjid. Alhamdulillah... Aku bukan tersesat, hanya sedikit berkesempatan menginjakkan kaki di beberapa tempat yang belum aku singgahi di sekitar Masjidil Haram.